Selamat Datang ke Weblog Dr Asmadi Mohamed Naim 'Nazil al-Qadah'

أهلا وسهلا ومرحبا بكم إلى موقع إلكتروني للدكتور أسمادي محمد نعيم نزيل القدح باللغة الماليزية



Sunday, 17 August 2014

ISU "MADAD YA RASULALLAH"

Saya ditanya pasal madaih (puji-pujian) "Madad Ya Rasulullah". Ia berkait dengan tawassul dan istighasah. Saya tidak menjawab sebab isu ini telah "DISYIRIKKAN" secara meluas dalam FB dan memerlukan perbahasan mendalam. Saya hanya meminta grup research kami membuat artikel lengkap untuk menjadi NERACA kepada pembaca dan mengelakkan kita "GOPOH" menjatuhkan hukuman. Bila kita menuduh seseorang kafir, jika mereka tidak kafir, kafir akan kembali kepada kita. Begitu juga tuduhan syirik. Suatu tuduhan yang amat berat.


Alhamdulillah, grup research telah Berjaya mendatangkan suatu artikel untuk bacaan bersama. Sila baca dengan hati yang terbuka dan boleh dibincangkan secara ilmiah, tanpa emosi mana poin-poin yang diutarakan. Nasihat saya, jangan cepat melafazkan (atau menulis) dan menuduh SYIRIK kepada sesuatu yang kadang-kadang, ilmu kita tidak mencukupi mengenainya.


Sila klik link ini untuk tatapan anda: http://www.aswj-rg.com/2014/08/hukum-mengucapkan-madad-ya-rasulullah-pencerahan-buat-abu-anas-madani.html



Atau baca artikel di bawah:


HUKUM-MENGUCAPKAN “MADAD YA RASULULLAH” PENCERAHAN BUAT ABU ANAS MADANI

 Artikel pada kali ini kami merespon terhadap status facebook Abu Anas Madani yang boleh dikira sebagai berbahaya kepada masyarakat kerana boleh menjerumuskan kepada budaya takfir mentakfir, kami mengharapkan supaya Abu Anas Madani lebih teliti dan ilmiah ketika mengulas sesuatu isu apatah lagi jika implikasinya adalah syirik dan takfir, Jika tidak mampu berbuat secara ilmiah, berdiam diri adalah lebih baik dari menimbulkan kerosakan kepada masyarakat. Selepas ini kami akan mula menghadapkan para penyelidik kami untuk mengoreksi beberapa lagi tulisan abu anas madani di facebook atau laman web beliau (jika ada) kerana terlalu banyak aduan yang diterima pihak kami dari masyarakat bahawa Abu Anas Madani mengelirukan masyarakat dengan penulisan-penulisan beliau. Wallahualam.

Status facebook yang dimaksudkan boleh dilihat disini: https://www.facebook.com/AbuAnasMadani/posts/942200195806615:0

Tawassul dan istighatsah kepada para nabi atau orang shalih yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa ulama salaf yang shalih. Dalam berbagai macam redaksi tawassul dan istighatasah, terus dipraktekkan dari generasi salaf hingga saat ini oleh mayoritas umat muslim di berbagai belahan dunia ini, tak ada yang mengingkarinya kecuali segelintir kaum yang tidak memahami subtansi tawassul dan istighatsah dengan baik dan benar sesuai pemahaman ulama salaf yang shalih.

Berikut di antara kekeliruan segelintir kaum itu dalam memahami terminologi istighatsah dengan teks “al-Madad atau adrikni “ :

Dr Abu Anas mengatakan :

Sebahagian melaungkan qasidah ini tanpa ada niat memohon pertolongan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, dan kita berharap inilah yang diyakini kebanyakan mereka yang membaca Qasidah itu. Akan tetapi terdapat sebahagian mereka yang benar-benar meyakini bahawa boleh meminta tolong daripada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatan baginda kerana mereka berpegang bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup di alam kubur, dan mampu mendoakan umatnya sebagaimana ketika baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. 


Kami jawab :
Yang kedua pun tak salah menurut ajaran Ahlus sunnah wal Jama’ah. Karena meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas kewafatannya, juga tidak meyakini sumber atau penciptaan pertolongan maupun mudarat dari dzat Rasulullah sendiri melainkan meyakini bahwa pertolongan, bantuan, manfaat ataupun mudarat (bahaya) hanyalah dari Allah semata yang menciptakannya. Hal ini sesuai pemahaman mayoritas ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah sejak masa Nabi, sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga masa kita sekarang ini dan dipegang oleh majoriti umat muslim di seluruh penjuru dunia ini.

 
Sebelum kami menjelaskan secara detail, ada baiknya Dr Abu Anas merenungi hadits-hadits sahih berikut ini :

إن لله ملائكةً في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما يسقط من ورق الشجر، فإذا أصاب أحدكم عرجة بأرض فلاة فليناد: أعينوا عباد الله

“ Sesungguhnya Allah memiliki malaikat di bumi selain Hafadzah yang menulis daun-daun yang jatuh dari pohonnya, maka jika kalian ditimpa kesulitan di suatu padang, maka hendaklah mengatakan : “ Tolonglah aku wahai para hamba Allah “.[1]


Dengan jelas hadits ini menunjukkan seruan yang meminta pertolongan kepada orang yang tidak hadir di hadapannya, entah itu wali Allah atau pun malaikat dan ini merupakan sebahagian dari istighatsah (meminta pertolongan). Nabi telah mengajarkannya pada umat Islam dan ini pun telah diamalkan oleh ulama salaf di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal dan juga para ulama setelahnya seperti para guru imam Nawawi. Bahkan dalam riwayat yang lain hadits seperti di atas, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Albani mengulas bahwasanya Imam Ahmad beristighatsah dengan malaikat. Apakah Imam Ahmad bin Hanbal telah musyrik karena beristighatasah dengan malaikat sebagaimana keterangan al-Albani dalam kitab as-Silsilah adh-Dha’ifah?


وَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ ، فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ، ثُمَّ بِمُوسَى ، ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ

“ Dan berkata : “ Sesungguhnya matahari akan mendekat di hari kiamat hingga keringat mencapai telinga, ketika keadaan mereka seperti itu, maka mereka beristighatsah dengan Nabi Adam, kemudian kepada Musa kemudian kepada nabi Muhammad “. (HR. Bukhari)


Jika meminta pertolongan kepada nabi yang sudah wafat dilarang, lalu kenapa mereka beristighatsah kepada para nabi di atas dan tidak beristighatsah kepada Allah secara langsung? atau apakah syirik boleh dilakukan di akhirat dan tidak boleh dilakukan di dunia?? Seandainya meminta pertolongan kepada Nabi yang sudah wafat itu haram dan syirik, sepatutnya juga syirik jika dilakukan di akhirat nanti. Kecuali jika mereka menghukumi syirik di dunia dan tidak syirik di akhirat. 

Nabi juga pernah mengucapkan:
اللهم اسقنا غيثا مغيثا مريئا مريعا نافعا غير ضار عاجلا غيرآجل

“ Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong, menyelamatkan, enak, yang subur, memberi manfaat dan tidak mendatangkan bahaya, segera dan tidak ditunda “. (HR. Abu Dawud : 988 dengan sanad yang sahih)

Dalam hadits yang berupa doa tersebut, Nabi menyebut dan menamakan hujan sebagai Mughits (penolong), Nafi’ (pemberi manfaat) dan Ghair Dhaarrin (Tidak mendatangkan bahaya).

Apakah Nabi kita menjadi musyrik dengan ucapannya itu? Apakah bererti Nabi telah meyakini bahwa hujan itu merupakan penolong, penyelamat dan pemberi manfaat ?? Atau apakah Nabi ingin mengajarkan kesyirikan kepada umatnya ??

 
Makna ucapan “ al-Madad atau Adrikni Ya Rasulallah “.

Ucapan di atas masuk dalam kategori tawassul dan istighatasah. Kedua ucapan di atas mengandung seruan (nida’ ; Ya Rasulallah) dan tawassul dengan ungkapan “ al-Madad “ atau “ adrikni “. Maka maknanya adalah, “ kami memohon pertolongan dengan perantaraanmu wahai Rasulallah “.

Pada hakikatnya kaum muslimin yang bertawassul atau beritighatsah dengan Nabi atau orang soleh sama ada yang wafat atau yang masih hidup, adalah mereka hanyalah memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah semata, dan pertolongan atau bantuan itu termasuk yang Allah anugerahkan kepada nabi atau orang soleh itu dan Allah kasihkan kepada mereka. Maka ucapan seorang yang bertawassul atau beristighatsah misal : “Wahai nabi Allah, sembuhkanlah aku, tunaikanlah hutangkau“, maka sesungguhnya ia hanyalah menginginkan : “Bantulah aku dengan syafa’at dan pertolonganmu agar aku sembuh, dan doakanlah agar hutangku terlunasi, bertawajjuhlah kepada Allah dalam urusanku ini“. Maka mereka kaum muslimin tidaklah meminta kecuali apa yang Allah mampukan dan berikan pada mereka berupa doa dan syafa’at atau pertolongan.

Penyandaran al-madad (pertolongan), al-‘aun (bantuan) kepada Rasulullah atau makhluk lainnya hanyalah majaz (bukan hakekatnya) dan penisbatan semacam ini dibenarkan dalam hadits dan al-Quran sendiri. Dan kaum muslimin pun tidak meyakini pertolongan dan bantuan diciptakan oleh Rasulullah atau makhluk lainnya, melainkan kaum muslimin meyakini pertolongan, manfaat ataupun bahaya hanyalah dari Allah semata.

Contoh sebagaimana yang telah kami tampilkan di awal hadits Nabi berikut : 

اللهم اسقنا غيثا مغيثا مريئا مريعا نافعا غير ضار عاجلا غيرآجل

“Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong, menyelamatakan, enak, yang subur, memberi manfaat dan tidak mendatangkan bahaya, segera dan tidak ditunda “. (HR. Abu Dawud : 988 dengan sanad yang sahih) 

Dalam hadits yang berupa doa tersebut, Nabi menyebut dan menamakan hujan sebagai Mughits (penolong), Nafi’ (pemberi manfaat) dan Ghair Dhaarrin (Tidak mendatangkan bahaya).

Mungkinkah Nabi menyebut Hujan sebagai penolong, pemberi manfaat secara hakikatnya dan bukan majaz ?? jelas Nabi tidak bermaksud secara hakikatnya melainkan secara majaz, sebab jelas jika meyakini hujan sebagai pemberi pertolongan dan manfaat secara independen, maka hukumnya mensyirikkan Allah dengan makhluk-Nya. Maka sudah tentu yang Nabi maksudkan adalah secara majaz bukan hakikatnya.

Jika hujan saja boleh disebut al-ghouts secara majaz, maka demikian pula makhluk Allah termulia yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah banyak sebab perantara beliau umatnya bahkan seluruh alam mendapatkan banyak nikmat, pertolongan dan rahmat dari Allah Ta’ala, lebih layak disebut al-ghauts atau al-madad secara majaz.

Contoh, dalam al-Quran disebutkan :

إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

“ Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu (wahai Maryam), untuk aku berikan padamu seorang anak yang cerdas “. (QS. Maryam : 19)


Apakah Jibril yang memberikan seorang anak untuk Maryam ?? tentu tidak, yang memberikan dan menciptakan seorang anak hanyalah Allah semata. Maka menisbatkan kata “AHABA (Aku memberikan) “, adalah bersifat majaz bukan hakikatnya.

Dalam al-Quran Nabi Isa juga mengatakan :

أني أخلق لكم من الطين كهيئة الطير فانفخ فيه فيكون طيرا بإذن الله

“ Aku membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah “ (QS. Ali Imran : 49 )

Apakah nabi Isa yang menciptakan burung dari tanah liat karena beliau sendiri yang mengatakan mencitpakan dan meniupkan menjadi hidup ?? tidak, akan tetapi kata penciptaan dan peniupan adalah majaz bukan hakikatnya

Demikian juga ucapan “ al-Madad Ya Rasulullah “ atau “ adrikni Ya Rasullah “, bukanlah secara hakikatnya melainkan secara majaz saja, adapun hakikatnya yang memberi pertolongan adalah hanyala Allah semata bukan yang lain-Nya. Dan Rasulullah sendiri pun telah menegaskan kepada umatnya:
وإِنما أنا قاسم والله يعطي

“ Sesungguhnya saya hanyalah pembagi sedangkan Allah lah yang memberi “. (HR. Bukhari)


Allah Ta’ala pun telah berfirman : 

وإذْ تَقولُ للذي أَنْعَمَ اللهُ عليهِ وأنْعَمْتَ عليه

“ Dan ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya…” (QS. Al-Ahzab : 37)

Apakah berarti Rasulullah juga mampu memberikan nikmat sebagaimana Allah ? apakah Rasul menjadi sekutu Allah karena sama-sama mampu memberikan nikmat sebagaimana ayat tersebut ?

Tidak demikian, akan tetapi maknanya adalah majaz yakni Rasul hanyalah menjadi faktor penyebab datangnya nikmat dari Allah. Dalam ayat itu, Zaid bin Haritsah mendapat berbagai nikmat dengan sebab (perantara) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia masuk Islam di tangan Nabi, ia dimerdekakan oleh Nabi, ia dinikahkan dengan pilihan Nabi dan ia menjadi sahabat utama Nabi. Namun Allah menisbatkan kalimat, “ engkau (Muhammad) juga telah memberikan nikmat “ kepada nabi Muhammad bukan berarti secara hekekatnya beliau mampu menciptakan nikmat, akan tetapi itu hanyalah majaz yang bermakna nabi Muhammad menjadi faktor penyebab datangnya nikmat.

Inilah pemahaman Ahlus sunnah Wal Jama’ah sejak masa sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga saat ini yang dipegang oleh mayoritas umat muslim di belahan dunia ini.
 
Jika hal semacam ini dinilai syirik maka sudah pasti Nabi tidak akan mengajarkan kepada umatnya apabila ditimpa kesulitan di suatu tanah lapang hendaknya mengucapkan “ Tolonglah aku wahai hamba Allah ! “, sebagaimana hadits yang telah kami tampilkan di awal. Karena jelas ucapan tersebut seolah meminta pertolongan kepada selain Allah, melainkan meminta pertolongan kepada makhluk yang tidak ada di hadapannya. Kenapa Nabi tidak langsung mengajarkan meminta pertolongan kepada Allah saja ? ini bukti bahwa tawassul dengan nida’ (seruan) telah dilegalitas oleh Nabi sendiri asalkan meyakini bahwa pemberi pertolongan ataupun madhorot hanyalah Allah semata.

Adapun fatwa ulama wahabi yang mengatakan :

ولكن حياته لا تعني أنه يزور الناس في أماكنهم أو يحضر جلساتهم وأذكارهم ويدعو لهم، إذ لو جاز أن يفعل شيئا من ذلك، لفعله مع صحابته وخلفائه وهم أفضل أمته وأعز الخلق عليه.

“ Tetapi hidupnya tidak bermaksud baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan menziarahi manusia di tempat mereka, atau menghadiri majlis-majlis mereka, lalu berdoa untuk mereka. Seandainya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam boleh melakukan hal ini, nescaya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukannya bersama-sama sahabat-sahabatnya, khalifah-khalifahnya kerana mereka adalah umatnya yang paling utama dan paling dicintai olehnya.”
 
Kami jawab:
Jelas ini adalah penilaian yang tidak tepat pada sasarannya. Karena kami meyakini bahwa apa yang kami ucapkan bahkan apa yang kami lakukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya tanpa harus datang ke tempat atau majlis kami. Dan pernyataan ulama wahabi tersebut justru bertentangan dengan hadits-hadits sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَياَتيِ خَيْرُ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالَكُم فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ

“Hidupku didunia ini baik untuk kalian. Bila aku telah wafat, maka wafatku pun baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku mohon kan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.[2]

Hadits ini begitu jelas bahwasanya amal perbuatan kita diperlihatkan kepada Rasulullah dan bahkan Rasulullah juga mendoakan kita dan memohonkan ampunan untuk kita di alam barzakhnya tanpa beliau harus datang ke tempat atau majlis kita.

Ibnul Qayyim menyebutkan sebuah hadits berikut :

من صلى علي عند قبري سمعته ومن صلى علي من بعيد اعلمته

“ Barang siapa yang membaca shalawat di dekat makamku, maka aku mendengar-nya. Dan barang siapa yang membaca shalawat dari tempat yang jauh, maka aku diberitahukannya ”.[3]

Hadits ini menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui ucapan sholawat umatnya sama ada di dekat kuburnya ataupun di tempat yang jauh. Kedua hadits di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya perbuatan kita dan ucapan sholawat kita dapat diketahui oleh Nabi di manapun kita berada.

Tawassul dan Istighatasah dengan Nabi atau wali yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa ulama salaf shalih.

Pada hakekatnya meminta pertolongan kepada wali atau orang shalih yang sudah wafat dengan cara bertawassul atau istighatsah maka maksudnya adalah memohon kepada para Nabi dan orang-orang shalih untuk menjadi faktor penyebab di sisi Allah dalam memenuhi apa yang mereka mohon dari Allah. Dengan cara Allah menciptakan kebutuhannya sebab syafaat, doa dan tawajjuh para wali dan orang shalih tersebut, bukan meminta langsung kepada wali atau orang shalih untuk menciptakan apa yang mereka minta dan inginkan dan bahkan hal terkabulnya hajat sebab tawassul kepada para wali merupakan salah satu mu’jizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hafidz Ibnu Shalah (w 643 H) berkata ketika menceritakan mu’jizat Nabi  :

وَذَلِكَ أَنَّ كَرَامَاتِ اْلأَوْلِيَاءِ مِنْ أُمَّتِهِ وَإِجَابَاتِ اْلمُتَوَسِّلِيْنَ بِهِ فيِ حَوَائِجِهِمْ وَمَغُوْثَاتِهِمْ عَقِيْبَ تَوَسُّلِهِمْ بِهِ فيِ شَدَائِدِهِمْ بَرَاهِيْنُ لَهُ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوَاطِعُ وَمُعْجِزَاتٌ لَهُ سَوَاطِعُ وَلاَ يَعُدُّهَا عَدٌّ وَلاَ يَحْصُرُهَا حَدٌّ أَعَاذَنَا اللهُ مِنَ الزَّيْغِ عَنْ مِلَّتِهِ وَجَعَلَنَا مِنَ اْلمُهْتَدِيْنَ اْلهَادِيْنَ بِهَدْيِهِ وَسُنَّتِهِ

“ Demikian itu bahwa karamah para wali Allah dari umatnya, dan terkabulnya hajat-hajat orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan mereka ketika dalam keadaan susah, merupakan bukti yang kuat dan mu’jizat yang terang, yang tidak mampu dihitungnya, kita berlindung kepada Allah dari menyimpang dari ajarannya dan menjadikan kami termasuk orang yang mendapat hidayat dengan petunjuknya dan sunnahnya “[4]

Al-Imam al-Alusi al-Mufassir mengatakan :

وبعد هذا كلـه لا أرى بأساً في التوسـل إلى الله بجاه النبي صلى الله عليه وسلم عند الله تعالى حياً وميتاً

“ Setelah (hujjah-hujjah) ini, maka saya mengatakan tidak mengapa di dalam bertawassul kepada Allah dengan perantara jaah (kedudukan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah, sama ada Nabi masih hidup ataupun sudah wafat “.[5]

Kemudian beliau juga mengatakan :

لا بأس به أيضاً إنْ كان المتوسل بجاهه مما علم أنّ له جاهاً عند الله تعالى كالمقطوع بصلاحه وولايته

“ Tidaklah mengapa juga bertawassul, jika orang yang dijadikan perantara tawassul adalah orang yang memiliki jaah (kedudukan) di sisi Allah Ta’ala seperti orang yang sudah diyakini dengan keshalihan dan kewaliannya “.[6]

Tawassul, istighatasah dan tabarruk dengan Nabi atau orang soleh yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa salaf bahkan hingga datang ke kuburannya.

Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikhnya berkata dari Abi Abdillah al-Muhamili bahwa ia berkata :
أعرف قبر معروفٍ الكرخي منذ سبعين سنةً، ما قصده مهموم إلا فرج الله همه
“ Aku tahu makam Ma’ruf AL-Kurkhi sejak 70 tahun, tidaklah seorang yang susah mendatanginya, kecuali Allah melapangkan kesusahannya “.[7]

 Abu Abdillah bin al-Muhamili ini lahir di Baghdad pada tahun 235 H dan wafat pada tahun 330 H.

Ibnu Khalkan juga mengatakan :

وأهل بغداد يستسقون بقبره ويقولون قبر معروف ترياق مجرب. وقبره مشهور يزار

“Penduduk Baghdad (bertawassul) dengan istisqa melalui kuburannya dan mengatakan, “ Kubur Ma’ruf adalah obat yang mujarrab “, dan kuburannya masyhur (terkenal) banyak diziarahi “[8]

Dan Ma’ruf al-Khurkhi wafat pada tahun 200 Hijriyyah.

Seorang ulama salaf bernama Ibrahim al-Harbi (w 285 H) di mana Imam Ahmad bin Hanbal pernah memondokkan putranya pada beliau, seorang Hafidz, Faqih dan Mujtahid pernah berkata :

قبر معروفٍ الترياق المجرب

“ Kuburan Ma’ruf al-Kurkhi adalah obat yang mujarrab “,

Al-Khatib al-Baghdadi mengomentarinya : “ Tiryaq adalah obat yang diracik dari berbagai bahan yang dikenal di kalangan para tabib masa lalu karena banyaknya manfaatnya, dan banyak macamnya. Al-Harbi menyerupakan makam Ma’ruf al-Kurkhi dengan obat di dalam banyaknya manfaat, maka seolah-olah al-Harbi berkata : “ Wahai manusia, datanglah ke kuburan Ma’ruf al-Kurkhi dengan bertabarruk karena banyak manfaat yang akan diperoleh “.[9]
 
Al-Khatib al-Baghdadi berkata dari Hasan bin Ibrahim al-Khallal, bahwa beliau berkata :

ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفرٍ فتوسلت به إلا سهل الله تعالى لي ما أحب
“ Tidaklah ada satu perkara yang membuatku susah, lalu aku dating ke makam Musa bin Jakfar, kemudian aku bertawassul dengannya, maka Allah akan memudahkan apa yang aku inginkan “.[10]

Para Imam Ahli Hadits, iaitu al-Imam al-Thabarani, al-Imam Abu al-Syaikh al-Ashibhani dan al-Imam Ibn al-Muqri beristighatsah dengan Nabi. Disebutkan bahwasanya mereka bertiga datang ke kota Madinah lalu, ketika mereka kelaparan maka malam harinya Ibn al-Muqri menziarahi makam Nabi dan mengucapkan, “Wahai Rasulallah, kami lapar “.  Maka tidak lama datanglah seorang keturunan Nabi dengan membawa makanan yang cukup banyak untuk mereka, karena ia bermimpi Nabi untuk memberikan makanan pada mereka bertiga.[11]

Al-Khatib al-Baghdadi juga meriwayatkan :

قال أنبأنا أبو عبد الرحمن محمد بن الحسين السلمي بنيسابور قال سمعت أبا بكر الرازي يقول سمعت عبد الله بن موسى الطلحي يقول سمعت أحمد بن العباس يقول خرجت من بغداد فاستقبلني رجل عليه أثر العبادة فقال لي من أين خرجت قلت من بغداد هربت منها لما رأيت فيها من الفساد خفت أن يخسف بأهلها فقال ارجع ولا تخف فان فيها قبور أربعة من أولياء الله هم حصن لهم من جميع البلايا قلت من هم قال ثم الامام أحمد بن حنبل ومعروف الكرخي وبشر الحافي ومنصور بن عمار فرجعت وزرت القبور ولم أخرج تلك السنة

“ Telah menceritakan padaku Abu Abdurrahman bin Husain as-Salma di Naisabur, ia berkata, “ Aku mendengar Abu Bakar ar-Razi berkata, “ Akau mendengar Abdullah bin Musa ath-Thalhi berkata, “ Aku mendengar Ahmad bin al-Abbas berkata, “ Aku keluar dari Baghdad, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang ada bekas ibadah atasnya, dan bertanya padaku, “ Dari mana engkau keluar ? “. Aku menjawab, “ Aku lari dari Baghdad, karena aku khawatir Allah menenggelamkan penduduknya ke dalam bumi karena kerusakan yang aku lihat di sana “, maka laki-laki itu berkata, “ Kembalilah dan janganlah takut, karena di Baghdad ada empat makam wali Allah, mereka adalah benteng untuk penduduknya dari semua bahaya “. Aku bertanya, siapa mereka ?, ia menjawab “ Mereka adalah imam Ahmad bin Hanbal, Ma’ruf al-Khurkhi, Bisyr al-Hafi dan Manshur bin ‘Ammar “. Maka aku kembali dan aku ziarahi kuburan-kuburan itu dan aku tidak keluar dari Baghadad selama setahun “.[12]

Dan masih banyak lagi hujjah dan dalil berkenaan masalah ini yang tidak kami tampilkan di sini, semoga yang singkat ini memberikan pencerahan bagi mereka dan mennambah keyakinan khususnya bagi Ahlus sunnah wal Jama’ah.

 
Ibnu Abdillah al-Katibiy
Kota Santri, 16/08/2014

Bacaan Tambahan:
http://akitiano.blogspot.com/2014/02/al-madad-dari-sisi-pandang-tasawwuf.html




[1] Hadits ini dinilai hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar, as-Sakhawi dan al-Haitsami lihat (Majma’ al-Zawaid : 10/132). Bahkan al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal karena imam Ahmad pun mengamalkannya. Lihat as-Silsilah adh-Dhaifah : 2/109
[2] Al-Haitsami menilai hadits tersebut sahih, lihat kitab Majma’ az-Zawaid : 9/24. Al-Hafidz al-Iraqi menilai sanadnya jayyid, lihat : Tharah at-Tatsrib : 3/297. Dan imam Suyuthi menilainya sahih, lihat kitab al-Khashaish : 2/281
[3] Jilaa al-Afham, Ibnul Qayyim : 109. Hadits ini sanadnya dinilai jayyid oleh imam as-Sakhawi dan al-Hafidz Ibnu Hajar, lihat kitab al-Qaul al-Badi’ : 227
[4]  Aadab al-Muffti wa al-Mustafti : 1/210
[5] Tafsir Ruh al-Ma’ani : 4/187
[6] Tafsir Ruh al-Ma’ani : 4/188
[7] Tarikh Baghdad : 1/135
[8] Tarikh Ibnu Khalkan : 2/224
[9] Tarikh Baghdad : 1/122
[10] Tarikh Baghdad : 1/120
[11] Lihat kitab Tadzkirat al-Huffazh, adz-Dzahabi Juz 3 hal. 974.
[12] Tarikh al-Baghdad : 1/133

 

Wednesday, 13 August 2014

KENAPA BUKAN PAS DIBERI KERUSI MB SELANGOR?

Saya membuat congakan sendiri. PKR dah diberi peluang memimpin Pakatan Rakyat di Selangor. Inilah juga baik hati PAS. Namun, timbul dua isu besar:

1) perebutan kuasa dalam PKR untuk menjadi MB,
2) timbul isu integriti MB daripada PKR sehingga dibuang oleh partinya.

Kalau begitu keadaannya, kenapa tidak diserahkan kepada PAS dan kenapa PKR tergesa-gesa memilih calon PKR juga walhal PAS layak juga kerana beberapa faktor:

1) PAS paling banyak kerusi dalam Pakatan Rakyat.
2) Pemimpin PAS Selangor sudah terlatih hasil menjadi exco untuk sekian lama.
3) Tuanku Sultan Selangor mungkin tiada masalah dengan calon-calon DUN PAS Selangor kecuali seorang dua yang keras dan kasar.

Rasanya DAP dan PKR patut bersetuju dengan saranan ini sekiranya mereka ikhlas dalam Pakatan Rakyat. PAS sudah memberi laluan kepada PKR. Kenapa tidak diberi laluan kepada PAS sekiranya mereka ikhlas? Pada saya MB bukan hak milik PKR di Selangor.

Friday, 8 August 2014

JAUHI SIFAT "GHULUW"

Di kalangan Sufi ada yang 'ghuluw'. Asalnya mahu kejernihan hati, tapi terperangkap dengan 'shatahat sufiyyah' (kegelinciran kaum sufi). Sebab itu kita melihat kepelikan zikir dan bertabarruk, walaupun hukum asal berzikir, bertabarruk dan bertawassul adalah harus. Begitu juga menghormati guru dan sheykh dianjurkan, namun terlanjur kelihatan seperti suatu kebenaran mutlak.
 
Kalau ada yang mengkritik mereka, mereka cepat membuat tuduhan bahawa pengkritik aliran Wahhabi, Salafi. Lantas sebahagian masyarakat akan turut menyesatkan mereka, yang menjadi mangsa, ahli tareqat yang ikhlas dalam perjalanan kejernihan hatinya. Walhal ulama yang dinegatifkan menolak sufi seperti Ibn Taymiyyah sebenarnya memuji Sufi yang hakiki.

Di kalangan yang mendakwa dirinya Salafi dan mahu mengikut ulama Salaf, sebenarnya bagus cita-cita itu. Tetapi malangnya terperangkap dengan banyak bergantung kepada pandangan Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim yang berada di kurun ke 7H, dan mereka bukan Salaf. Mereka yang 'ghuluw' menolak para ulama Salaf seperti Imam Abu. Hanifah (seorang tabiin dan ulama -ulama tabi'in lain mengiktirafnya), Imam Malik, Imam Syafie dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka juga menolak kitab-kitab ulama yang tidak sealiran dengan pandangan Ibn Taymiyyah. Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Albani sudah menjadi kebenaran mutlak. Bahkan kerana taksub dab 'ghuluw', mereka begitu cepat mengkafirkan dan mengatakan umat Islam masuk neraka. Bahkan di sesetengah negara, berlaku serangan pembunuhan atas hujah menghapuskan golongan musyrik. Atas sikap golongan ini, yang menjadi mangsa ialah orang-orang yang ikhlas mencari jalan Salaf dan masih boleh bertoleransi di atas perbezaan.

Ini adalah cabaran penyatuan ummat Sunni.

Allahu al-musta'an.

Saturday, 2 August 2014

ISTILAH 'SUNNAH' DAN 'MUSTAHAB'.

Ulama-ulama silam amat berhati-hati menggunakan dua istilah tersebut. Sesiapa yang mendalami perbahasan ulama, pasti akan berjumpa istilah-istilah ini. Jika sesuatu perbuatan Nabi SAW pernah buat atau suruh buat namun bukan suruhan Wajib, mereka mengatakan perkara ini adalah perkara sunnah dan berpahala jika melakukannya, namun tidak berdosa meninggalkannya.

Manakala jika perkara baik tetapi tiada nas yang menunjukkan Nabi SAW buat, dan tak bertentangan dengan kaedah Syarak dan masih dalam naungan nas Syarak, mereka mengatakan ianya 'mustahab' atau 'hasan' iaitu disukai (berpahala) dan baik dan dapat pahala.

Mengamalkan perkara Mustahab tersebut, tidak sekali-kali membinasakan sunnah, kerana pada kebiasaannya tiada nas daripada Sunnah yang mendetailkan perkara tersebut dan tiada pula larangan Syarak pada perkara tersebut.

Penggunanaan istilah 'sunat' dalam konteks masyarakat Melayu merangkumi dua istilah tersebut iaitu perkara sunnah, dan perkara mustahab yang bukan sunnah. Seorang tok guru mungkin berkata: Sunat buat perkara tu, cthnya ziarah kubur tak kira Hari Raya atau tidak. Mungkin di sini menimbulkan kekeliruan seolah-olah tok guru mengatakan apa yang Nabi SAW tak buat sebagai sunnah. Walhal mereka memaksudkan amalan-amalan yang berpahala.
 
 
Lantas mereka yang GOPOH berkata: "tok guru tu tak amanah dengan ilmu dan membuat hadis palsu!" Siapa yang gopoh, mereka cepat mengutuk ulama-ulama tersebut kerana mahu menjadi JUARA.

Allahu al-musta'an.

CARA FIKIR SALAH!


1. Tak boleh cium tangan mak bapa bila berjumpa mereka, sebab tak wajib cium pun. Kalu selalu cium, nanti ada yg beranggapan ianya wajib! Maka, anak ini pun tak cium dah tangan mak bapaknya. Takut sesat, masuk neraka.

2. Tak boleh baca yasin setiap Jumaat, nanti orang awam sangka ianya wajib. Maka, tinggalkan bacaan yasin. Takut sesat, masuk neraka.

3. Tak boleh menziarahi kubur secara sepakat hari dan waktu sesama adik-beradik (menjadualkan pergi bersama), nanti orang awam kata ianya wajib. Maka tak perlu ziarah kubur. Takut sesat dan masuk neraka.

4. Tak boleh buat qiamullail secara berjemaah dan berjadual, nanti orang awam kata wajib, jadi qiamullail lah sendiri-sendiri. Kalu tidak, pembuatnya jadi sesat dan masuk neraka.

Ni semua masalah SALAH CARA FIKIR. Kenapa disempitkan rahmat Allah SWT sebegitu sekali. Meletakkan perkataan haram dihujung lidah. Kalau orang awam salah faham, betulkan mereka tu, beritahu tak wajib. Bukan dengan meninggalkan amalan-amalan baik.

Kalu tak berjadual untuk sama-sama melakukan amalan menziarahi kubur mak ayah, macamana adik-beradik nak sepakat menziarahi bersama-sama. Dah ada yang berselfie, buang sajalah amalan berselfie, bukan dengan meninggalkan kebaikan menziarahi kubur.

Allahu al-musta'an.

Saturday, 12 July 2014

PANDANGAN SYAZ: TIADA JIHAD DI PALESTIN? SERAHLAH DIRI PADA ISRAEL!

Assalamu alaikum warahmatullah

Fatwa tiada jihad di Palestin terhadap Israel, bukan kali pertama dikeluarkan. Fatwa ini pernah dikeluarkan oleh Sykh Albani. Fatwa ini ditolak ulama seantero dunia.

Sekarang disambut oleh pengkagumnya pada setiap inci keputusan Albani. Bahkan membodohkan sesiapa masih mahu berjuang dan mempertahankan Palestin dan memboikot ISRAEL.. inilah kemuncak taqlid kepada seseorang (taklid buta kepada seseorang)...


Allahu al-Musta'an

Saturday, 5 July 2014

FATWA BIN BAZ MENGHARUSKAN KENDURI ARWAH

Klik link di bawah:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=686871044713956&id=100001732002898

atau baca di bawah ini:


FATWA BIN BAZ MENGHARUSKAN KENDURI ARWAH, BERSELAWAT DAN BERISTIGHFAR UNTUK IBUBAPA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA.

Assalamu alaikum warahmatullah,

Saya tertarik dengan Fatwa Shaykh Abdul Aziz bin Baz RH (Bekas Mufti Besar Saudi) yang MENGHARUSKAN KENDURI UNTUK IBUBAPA YANG TELAH MENINGGAL. Saya berharap selepas ini kita tak bergaduh lagi pasal isu sekecil ini sehingga mengeluarkan tuduhan sesat, bi...d'ah dan takfir. Bersatulah kita, usah diperbesarkan benda-benda khilaf.

Apabila ditanya mengenai kenduri untuk ibu-bapa yang telah meninggal dunia عشاء الوالدين). Beliau berkata:
عشاء الوالدين

س: الأخ أ. م. ع. من الرياض يقول في سؤاله: نسمع كثيرا عن عشاء الوالدين أو أحدهما، وله طرق متعددة، فبعض الناس يعمل عشاء خاصة في رمضان ويدعو له بعض العمال والفقراء، وبعضهم يخرجه للذين يفطرون في المسجد، وبعضهم يذبح ذبيحة ويوزعها على بعض الفقراء وعلى بعض جيرانه، فإذا كان هذا العشاء جائزا فما هي الصفة المناسبة له؟
ج: الصدقة للوالدين أو غيرهما من الأقارب مشروعة؛ لقول «النبي صلى الله عليه وسلم: لما سأله سائل قائلا: هل بقي من بر أبوي شيء أبرهما به بعد موتهما؟ قال نعم الصلاة عليهما والاستغفار لهما وإنفاذ عهدهما من بعدهما وإكرام صديقهما وصلة الرحم التي لا توصل إلا بهما
ولقوله صلى الله عليه وسلم: «إن من أبر البر أن يصل الرجل أهل ود أبيه » «وقوله صلى الله عليه وسلم لما سأله سائل قائلا: إن أمي ماتت ولم توص أفلها أجر إن تصدقت عنها؟ قال النبي صلى الله عليه وسلم نعم » ولعموم قوله صلى الله عليه وسلم: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له (» .وهذه الصدقة لا مشاحة في تسميتها بعشاء الوالدين، أو صدقة الوالدين سواء كانت في رمضان أو غيرهما. وفق الله الجميع لما يرضيه.
الكتاب: مجموع فتاوى العلامة عبد العزيز بن باز رحمه الله، عبد العزيز بن عبد الله بن باز (المتوفى: 1420هـ)، أشرف على جمعه وطبعه: محمد بن سعد الشويعر

Saudara dari Riyadh bertanya: Kita banyak mendengar mengenai 'Asya' al-walidayn (makan malam iaitu kenduri) untuk kedua ibubapa atau kenduri untuk salah seorang daripada keduanya, dilakukan dengan pelbagai cara. Sesetengah orang menyediakan makan malam khusus pada bulan Ramadhan dan menjemput buruh-buruh dan orang-orang miskin; setengah orang menyediakan makanan berbuka di masjid; setengah orang menyembelih sembelihan dan membahagikannya kepada orang-orang miskin, dan kepada jiran-jirannya; jika sekiranya kenduri sebegini adalah harus (dibolehkan), apakah sifat sambutan-sambutan yang bersesuaian untuknya?

Jawab Shaykh: "Memberi sedekah untuk kedua ibu bapa atau kaum kerabat adalah suatu yang masyru' (ada dalam agama) berdasarkan kata Nabi SAW apabila ditanya oleh seseorang: "Adakah masih ada cara aku berbuat baik kepada mereka berdua selepas kematian mereka berdua?" Baginda bersabda: "Ya, Bersalawat untuk mereka, beristighfar untuk mereka, melaksanakan janji mereka, memuliakan sahabat mereka dan menyambungkan silaturrahim". Dan berdasarkan Sabda Nabi SAW: "Sesunguhnya daripada perkara yang paling baik ialah menghubungkan seseorang lelaki dengan orang yang bapanya sukai". Dan Sabda Nabi SAW menjawab soalan orang yang bertanya: "Sesungguhnya ibuku meninggal tetapi tidak mewasiatkan apa-apa, adakah untuknya pahala sekiranya aku bersedekah bagi pihaknya? Berkata Nabi SAW: Ya".

Dan berdasarkan maksud umum Sabda Nabi SAW: "Apabila mati anak Adam maka putuslah amalannya kecuali daripada tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak soleh yang mendoakannya".

Sedekah sebegini (berpahala) walau apapun namanya samada dengan nama makan malam dua ibu bapa (kenduri malam), sedekah kedua ibubapa samada dalam bulan Ramadhan atau selainnya. Semoga Allah Taala memberi taufiq kepada semua kepada apa yang diredhai oleh-NYa. (Lihat Kitab Majmu' Fatawa oleh beliau).

Selamat beramal, wallahu ta'ala a'lam.

Thursday, 3 July 2014

Wanita hamil dan mengandung kena QADA dan BAYAR FIDYAH?

Assalamu alaikum warahmatullah,
 
Ulama-ulama hadis yg alim dan warak meriwayatkan secara jujur Pandangan Ibn Abbas RA bahawa wanita hamil dan mengandung boleh berbuka puasa sekiranya mereka takut kebinasaan pada anak-anak meraka, namun mereka kena QADA dan BAYAR FIDYAH.

Berkata ulama hadith, al-Sykh al-Allamah Abi al-tayyib Muhammad Syamsul Haq al-Azim Abadi RH dalam kitabnya Aun Al-Ma'bud ketika ...mensyarahkn Sunan Abi Daud 4/405:

قال الخطابي مذهب بن عَبَّاسٍ فِي هَذَا أَنَّ الرُّخْصَةَ مُثْبَتَةٌ لِلْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا وَقَدْ نُسِخَتْ فِي الشَّيْخِ الْكَبِيرِ الَّذِي يُطِيقُ الصَّوْمَ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُفْطِرَ وَيَفْدِيَ إِلَّا أَنَّ الْحَامِلَ وَالْمُرْضِعَ وَإِنْ كَانَتِ الرُّخْصَةُ قَائِمَةً لَهُمَا فَإِنَّهُ يَلْزَمُهُمَا الْقَضَاءُ مَعَ الْإِطْعَامِ وَإِنَّمَا لَزِمَهُمَا الْإِطْعَامُ مَعَ الْقَضَاءِ لِأَنَّهُمَا يُفْطِرَانِ مِنْ
أَجْلِ غَيْرِهِمَا شَفَقَةً عَلَى الْوَلَدِ وَإِبْقَاءً عَلَيْهِ

Berkata al-Khattabi:"Mazhab Ibn Abbas pada masalah ini (Tafsiran ayat surah al-Baqarah: وعلى الذين  يطيقونه): Sesungguhnya rukhsah (kelonggaran tidak berpuasa) adalah thabit pada perempuan mengandung dan menyusukan anak, jika mereka takut (memudaratkan) ke atas anak-anak mereka. Maka dinasakhkan kelonggaran ini untuk orang tua yang tidak upaya, maka mereka (orang tua) tidak perlu untuk mereka berbuka dan membayar fidyah(tidak wajib kedua-duanya).

 
Manakala bagi perempuan hamil dan perempuan menyusukan anak, rukhsah (kelonggaran) masih kekal untuk kedua-duanya, justeru diwajibkan kedua-duanya qada puasa beserta bayar fidyah. Maka sesungguhnya dilazimkan ke atas kedua-dua mereka fidyah beserta qada kerana mereka berbuka kerana orang lain (bukan kerana diri sendiri) kerana kasihan kepada anak dan mengekalkan kesejahteraan mereka".

Manakala pandangan Imam Abu Hanifah dan sahabatnya: mereka qada tanpa perlu membayar fidyah.

Selamat beramal, wallahu a'lam.

Adakah ada istilah imsak dalam Syariat Islam?

Assalamualaikum semua,

Adakah ada istilah imsak dalam Syariat Islam?
Jawapan: Perkataan ini diambil daripada perbuatan Nabi SAW iaitu amalan Nabi daripada habis makan dan solat (masuk waktu dan solat) sebagaimana hadis di bawah:
وروى البخاري (٥٥٦) عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - وزيد بن ثابت تسحراً، فلما فرغا من سحورهما قام نبي الله - صلى الله عليه وسلم - فصلى قلن...ا لأنس: كم كان بين فراغهما من سحورهما ودخولهما في الصلاة؟ قال: قدر ما يقرأ الرجل خمسين آية.

Daripada al-Bukhari daripada Anas bin Malik RA, sesungguhnya Nabi SAW dan Zayd bin Thabit bersahur, ketika mana mereka habis makan, bangun Nabi SAW bersolat. Kami bertanya kepada Anas: Berapa tempoh antara kedua-duanya selesai makan dan mendirikan solat. Berkata (Anas): bacaan seseorang lelaki sekadar 50 ayat.

Istidlalnya: Waktu wajib meninggalkan makan ialah sebelum azan sebagamana ayat Quran menyebut secara jelas mengenainya (khaitul abyad). Manakala sunnah 'imsak' (menahan makan) pada kadar waktu imsak berdasarkan dalil di atas.

Selamat beramal. Wallahu ta'ala a'lam.

Saturday, 29 March 2014

MESIR BERGOLAK LAGI?

Para pembaca budiman,

Bila membaca berita Mesir, semua hati umat Islam yang mempunyai jiwa perjuangan Islam pasti tersentuh. Sudah ditakdirkan mereka diuji daripada zaman berzaman termasuk pada zaman al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna Rahimahullah sehinggalah pengikut mereka pada hari ini. Kita terkejut dengan beberapa pegangan ulama dan Negara Islam mengenai isu ini:


1. Sebahagian ulama terkenal Mesir berterusan menyokong Jen Sisi walaupun terbukti ia telah melakukan pembunuhan terhadap umat Islam.

2. Kerajaan Arab Saudi juga menyokong Jeneral Sisi. Dimanakah ulama-ulama Saudi menasihati dan membantah pegangan Negara mereka terhadap 'stance' pemimpin mereka?

3. Parti Salafi Mesir juga menyokong Jen. Sisi dan dimanakah pembelajaran mereka mengenai Islam? Adakah kerana Ikhwan Muslimin bukan Salafi, maka boleh diperlakukan apa sahaja dan mereka diam terhadap kezaliman ini?

Pada keadaan tersebut, sebahagian umat Islam menggelarkan mereka sebagai ulama Su' (ulama jahat) kerana bersekongkol dengan pemerintah melakukan perkara zalim ini.

Sebahagian orang kita pula, hanya menyalahkan ulama Mesir, tetapi MENUTUP MATA kepada ketidakupayaan ulama Saudi yang TAKUT menasihati raja mereka, dan grup Salafi Mesir yang GAGAL membela sahabat mereka di Mesir. Kalau benar ulama Mesir dipalitkan gelaran ulama Su' (ulama Jahat), ulama Saudi juga dan Salafi Mesir juga boleh diklasifikasikan sedemikian kerana gagal menasihati pimpinan mereka.

Semoga kita semua adil dalam membela sahabat-sahabat se Islam kita. Wallahu t'ala a'lam. Allah al-Musta'an.


Abu al-'Izz